Selasa, Januari 27, 2009
'Cerita Tentang Kentut.'
Saya mencoba untuk mengulas menariknya fenomena kentut, berkentut dan beberapa hal yang mungkin menarik untuk diketahui walaupun sebelumnya mungkin tidak menarik sama sekali.... bahkan mendengarkannya pun enggan.
Begini, kisaran 2 tahun yang lalu ketika sedang jadwal boarding di ruang tunggu bandara Cengkareng, saya duduk bersebelahan dengan seorang pria paruh baya yang saya yakin bukan orang kita, tapi bisa jadi orang Jepang.
Orang itu asyik membaca buku yang saya yakin sebuah novel karena ukurannya sebesar rata-rata buku novel.
Nggak berapa lama setelah kami berdiam diri dengan kesibukan masing-masing (saya asyik kirim-kiriman sms... yang pasti bukan untuk ulasan perihal kentut)... tiba-tiba dia memiringkan badannya berlawanan arah dengan sisi saya yang artinya memiringkan pantatnya ke arah tempat saya duduk daaaann.... timbul bunyi mak 'prootth' ... rupanya dia kentut dengan seksama, ke arah saya !
Saya sempet mau tersinggung... saya liat dia... tapi demi melihat ketekunannya dia baca novel itu dan saya liat orangnya terpelajar.... saya jadi urung tersinggung.... dan yang penting kentutnya ternyata tidak memberikan dampak nyata berupa bau yang tidak sedap.
Saya harus balas !... bener nggak lebih dari 10 menit saya konsentrasikan diri (sambil tetap berlagak kirim sms) untuk bisa mengolah chemistry dalam lambung dan usus saya untuk menghasilkan gas yang bisa diledakkan dalam bentuk kentut melalui mekanisme yang sedikit dipaksakan....
Benar... saya pun mulai meniru yang dia lakukan 10 menit yang lalu terhadap saya. Tapi karena mungkin ini tipe kentut yang tidak rela, maka bunyinya pun berkesan malu-malu.... mak 'tiuuuuuttt'... dan dijamin tidak berbau, karena saya yakin tidak sedang kebelet dan memang bukan penggemar makanan yang menyebabkan kentut saya bau... istilahnya saya ini mungkin tipe orang penghasil kentut yang elite... nggak norak.
Poin-nya bukan itu.... saya nunggu reaksi dia.... dan ternyata dia nggak bergeming !!! padahal saya yakin dia bukan orang yang tuli. Demi mendengar suara kentut saya yang radha-radha aduhai itu, ternyata dia tetep tekun membaca novelnya dengan seksama... mungkin dia baca buku tentang ; Uji Coba Reaksi Orang Ketika Kita Sedang Kentut.
Ya udah satu sama, pikir saya.... dan yang penting aksi saling balas kentut ini tidak menimbulkan prahara yang tidak perlu di ruang tunggu bandara Internasional ini.
Dari kejadian itu saya jadi mikir..... Ooooo berarti memang ada penyadaran dari orang sana bahwa berhajat kentut itu merupakan kebutuhan biologis yang tidak bisa dihindari oleh manusia siapa-pun dia dan bila perlu tidak usah ditahan, asal tidak membuat bising pendengarnya dan tidak membuat mabuk bagi yang mencium aroma tak terkendalinya....
Juga saya pernah punya kenalan orang Kanada, ketika kerja bareng di suatu lokasi remote di Kalimantan sana, pernah dia bilang kalo saya nggak perlu malu-malu kalo mau kentut.... kentut saja karena itu bisa membuat perut lega.... tapi dia sangat nggak setuju kalo ada orang tidak bisa menahan sendawa (glegek-en, jw) .. dia bilang itu seperti babi...
Waduh sempat bingung saya karena;
-pertama saya barusan mendapatkan kebebasan baru yang belum saya peroleh dari komunitas orang kita..... yaitu bebas kentut asal tidak bising dan tidak bau (wah untuk ukuran orang yang konsumsinya 4 sehat 5 sempurna plus sambel-2an pasti ini susah !). Repotnya justru dengan kebebasan yang diberikan oleh orang Kanada ini, malah saya tidak bisa kentut berhari-hari !
-kedua saya jadi mikir bagaimana caranya untuk tidak bersendawa sehabis makan.... maklum menu makanan orang kita memang sangat memungkinkan kita untuk bersendawa sehabis makan... selain juga kebiasaan kita yang cenderung harus merasa kenyang baru berhenti makan... bukan cukupkan makan supaya nanti merasa kenyang... dan ternyata pesan moral agar orang tidak bersendawa sembarangan memang bagus, yaitu kita dianjurkan untuk mencukupkan makan.
Jadi demikian... kembali ke urusan kentut. Sebagai tambahan lagi, bahwa jenis kentut juga berbeda-beda yang -menurut saya- bisa dikategorikan menjadi 2 kelompok utama;
1. Jenis kentut yang bertipe suara kencang (biasanya berbunyi mak 'thooooott'..atau..mak 'brhooott'... atau mak 'zzrrhhoongngng'), namun tidak menimbulkan bau yang signifikan.... ini biasanya dimiliki oleh orang-orang yang berkategori nothing too lose... enjoy the living... apa adanya.... dan menyatu dengan alam terbuka (down to earth). Dan cenderung dimiliki oleh kalangan wong cilik, karena memang keterbatasannya untuk mendapatkan kesempatan mengkonsumsi rupa-rupa makanan yang menjadi penyebab kentut menjadi bau...
2. Jenis kentut yang bertipe suara halus bahkan tidak terdengar, namun menimbulkan bau yang bisa membuat kecoa pingsan (biasanya berbunyi mak 'theessss' atau malah cuman mak 'ssttttt' dan paling banter paling cuman mak 'pheq !' kayak suara kodok ke-injek)..... ini biasanya dimiliki oleh orang-orang kantor-an, yang suka duduk ber-jam-jam tapi menahan-nahan aspirasi biologisnya demi kesopanan tapi malah menumpuk cikal bakal bau yang semerbak tidak enaknya.... atau dengan kata lain, tipe kentut ini dimiliki oleh sekelompok dan mungkin sebagian orang di dalamnya yang terbiasa hidup dalam keterpura-puraan.
Biasanya yang suka iseng suka mengeluarkan jenis kentut ini di ruang tertutup, macam dalam lift, dalam ruang meeting tertutup, dalam bus ac, dalam mobil ber-ac ketika rame-rame bareng pulang kantor atau bahkan di dalam pesawat terbang (kasus yang terjadi biasanya pas penumpang sudah pada berdiri antri mau turun dari pesawat)..... tujuannya ?? ya mungkin sekedar exhibionist.
Jadi ternyata kentut dan fenomena-nya itu menarik untuk dicermati, juga karena berkentut itu ternyata penting untuk dilampiaskan sebagai konsekuensi salah satu kebutuhan biologis, sejauh tidak menodai norma yang berlaku umum/disepakati dalam suatu komunitas.
Anton Joedijanto,
Jakarta, 12 maret 08.
Begini, kisaran 2 tahun yang lalu ketika sedang jadwal boarding di ruang tunggu bandara Cengkareng, saya duduk bersebelahan dengan seorang pria paruh baya yang saya yakin bukan orang kita, tapi bisa jadi orang Jepang.
Orang itu asyik membaca buku yang saya yakin sebuah novel karena ukurannya sebesar rata-rata buku novel.
Nggak berapa lama setelah kami berdiam diri dengan kesibukan masing-masing (saya asyik kirim-kiriman sms... yang pasti bukan untuk ulasan perihal kentut)... tiba-tiba dia memiringkan badannya berlawanan arah dengan sisi saya yang artinya memiringkan pantatnya ke arah tempat saya duduk daaaann.... timbul bunyi mak 'prootth' ... rupanya dia kentut dengan seksama, ke arah saya !
Saya sempet mau tersinggung... saya liat dia... tapi demi melihat ketekunannya dia baca novel itu dan saya liat orangnya terpelajar.... saya jadi urung tersinggung.... dan yang penting kentutnya ternyata tidak memberikan dampak nyata berupa bau yang tidak sedap.
Saya harus balas !... bener nggak lebih dari 10 menit saya konsentrasikan diri (sambil tetap berlagak kirim sms) untuk bisa mengolah chemistry dalam lambung dan usus saya untuk menghasilkan gas yang bisa diledakkan dalam bentuk kentut melalui mekanisme yang sedikit dipaksakan....
Benar... saya pun mulai meniru yang dia lakukan 10 menit yang lalu terhadap saya. Tapi karena mungkin ini tipe kentut yang tidak rela, maka bunyinya pun berkesan malu-malu.... mak 'tiuuuuuttt'... dan dijamin tidak berbau, karena saya yakin tidak sedang kebelet dan memang bukan penggemar makanan yang menyebabkan kentut saya bau... istilahnya saya ini mungkin tipe orang penghasil kentut yang elite... nggak norak.
Poin-nya bukan itu.... saya nunggu reaksi dia.... dan ternyata dia nggak bergeming !!! padahal saya yakin dia bukan orang yang tuli. Demi mendengar suara kentut saya yang radha-radha aduhai itu, ternyata dia tetep tekun membaca novelnya dengan seksama... mungkin dia baca buku tentang ; Uji Coba Reaksi Orang Ketika Kita Sedang Kentut.
Ya udah satu sama, pikir saya.... dan yang penting aksi saling balas kentut ini tidak menimbulkan prahara yang tidak perlu di ruang tunggu bandara Internasional ini.
Dari kejadian itu saya jadi mikir..... Ooooo berarti memang ada penyadaran dari orang sana bahwa berhajat kentut itu merupakan kebutuhan biologis yang tidak bisa dihindari oleh manusia siapa-pun dia dan bila perlu tidak usah ditahan, asal tidak membuat bising pendengarnya dan tidak membuat mabuk bagi yang mencium aroma tak terkendalinya....
Juga saya pernah punya kenalan orang Kanada, ketika kerja bareng di suatu lokasi remote di Kalimantan sana, pernah dia bilang kalo saya nggak perlu malu-malu kalo mau kentut.... kentut saja karena itu bisa membuat perut lega.... tapi dia sangat nggak setuju kalo ada orang tidak bisa menahan sendawa (glegek-en, jw) .. dia bilang itu seperti babi...
Waduh sempat bingung saya karena;
-pertama saya barusan mendapatkan kebebasan baru yang belum saya peroleh dari komunitas orang kita..... yaitu bebas kentut asal tidak bising dan tidak bau (wah untuk ukuran orang yang konsumsinya 4 sehat 5 sempurna plus sambel-2an pasti ini susah !). Repotnya justru dengan kebebasan yang diberikan oleh orang Kanada ini, malah saya tidak bisa kentut berhari-hari !
-kedua saya jadi mikir bagaimana caranya untuk tidak bersendawa sehabis makan.... maklum menu makanan orang kita memang sangat memungkinkan kita untuk bersendawa sehabis makan... selain juga kebiasaan kita yang cenderung harus merasa kenyang baru berhenti makan... bukan cukupkan makan supaya nanti merasa kenyang... dan ternyata pesan moral agar orang tidak bersendawa sembarangan memang bagus, yaitu kita dianjurkan untuk mencukupkan makan.
Jadi demikian... kembali ke urusan kentut. Sebagai tambahan lagi, bahwa jenis kentut juga berbeda-beda yang -menurut saya- bisa dikategorikan menjadi 2 kelompok utama;
1. Jenis kentut yang bertipe suara kencang (biasanya berbunyi mak 'thooooott'..atau..mak 'brhooott'... atau mak 'zzrrhhoongngng'), namun tidak menimbulkan bau yang signifikan.... ini biasanya dimiliki oleh orang-orang yang berkategori nothing too lose... enjoy the living... apa adanya.... dan menyatu dengan alam terbuka (down to earth). Dan cenderung dimiliki oleh kalangan wong cilik, karena memang keterbatasannya untuk mendapatkan kesempatan mengkonsumsi rupa-rupa makanan yang menjadi penyebab kentut menjadi bau...
2. Jenis kentut yang bertipe suara halus bahkan tidak terdengar, namun menimbulkan bau yang bisa membuat kecoa pingsan (biasanya berbunyi mak 'theessss' atau malah cuman mak 'ssttttt' dan paling banter paling cuman mak 'pheq !' kayak suara kodok ke-injek)..... ini biasanya dimiliki oleh orang-orang kantor-an, yang suka duduk ber-jam-jam tapi menahan-nahan aspirasi biologisnya demi kesopanan tapi malah menumpuk cikal bakal bau yang semerbak tidak enaknya.... atau dengan kata lain, tipe kentut ini dimiliki oleh sekelompok dan mungkin sebagian orang di dalamnya yang terbiasa hidup dalam keterpura-puraan.
Biasanya yang suka iseng suka mengeluarkan jenis kentut ini di ruang tertutup, macam dalam lift, dalam ruang meeting tertutup, dalam bus ac, dalam mobil ber-ac ketika rame-rame bareng pulang kantor atau bahkan di dalam pesawat terbang (kasus yang terjadi biasanya pas penumpang sudah pada berdiri antri mau turun dari pesawat)..... tujuannya ?? ya mungkin sekedar exhibionist.
Jadi ternyata kentut dan fenomena-nya itu menarik untuk dicermati, juga karena berkentut itu ternyata penting untuk dilampiaskan sebagai konsekuensi salah satu kebutuhan biologis, sejauh tidak menodai norma yang berlaku umum/disepakati dalam suatu komunitas.
Anton Joedijanto,
Jakarta, 12 maret 08.
'Perihal; Grup Band RUSH.'
Saya juga nge-fans sama grup musik asal Kanada ini.... begitu solid dan berenergi walaupun sudah menginjak usia grup hampir 40 tahun pertama berdiri, grup ini konon bernama Mahagony Rush, yang berkiblat bahkan mengadopsi habis konsep musik heavy metal-nya Led Zeppelin.Album pertama mereka yaitu 'RUSH' yang rilis taun 1974 masih belum diawaki oleh Neil Peart. Bahkan lagu yang berjudul Finding my way dan Working Man, aroma Led Zeppelin sangat kental dalam album pertama ini, ada lagu yang sangat populer dan sempat 'dicari-cari' oleh anak-anak muda kita tahun 80-an, yaitu; In the mood.
Konon juga setelah album itu, terdapat perselisihan antara Geddy Lee (yang memang paling pinter dalam grup ini) dengan drummernya yang terdahulu. Lee tidak ingin RUSH menjadi epigonnya Led Zeppelin.
Karena perbedaan konsep bermusik tersebut, maka sang drummer tersebut digantikan oleh Neil Peart yang pada masa mendatang berhasil menawarkan konsep bermusik baru yang menjadi nyawa RUSH.
Dalam album 'Fly By Night', 1975, terdengar dengan jelas perbedaan aroma musik dalam RUSH setelah Neil Peart gabung dalam grup musik ini..... bukan menjadi heavy metal namun lebih menjadi dynamic - metal rock.... masih belum ke progressif rock.
Selanjutnya pada tahun yang sama rilis album 'Carress of Steel' pada tahun 1976 rilis album '2112'.... dengan tembang andalan yang berjudul sama, yang menurut saya menjadi salah satu ikon/lagu wajib dalam setiap konser mereka, yaitu The Temple of The Syrinx. Juga dirilis satu lagu yang sangat syahdu.... asli, ini adalah lagu paling melo yang pernah dirilis oleh RUSH, judulnya; The Tears.
Pada tahun 1976, setelah keempat album itu rilis, mereka mencoba 'nekat' untuk menggelar konser di tanah kelahiran musik rock modern yaitu Inggris dengan judul konser; 'All The World's Stage'. Tak dinyana, sambutan dari konser tersebut sangat luar biasa bagi 'pendatang' baru yang berasal dari luar Inggris.
Setelah keempat album yang menawarkan pakem musik heavy metal klasik tersebut, baru pada tahun 1977-1979 mereka mencoba bereksperimen mencoba meramu konsep musik dynamic-metal rock-nya dengan sentuhan progressif rock. Akhirnya rilis 2 album yang sangat kental dengan aroma progressif rock yaitu; 'Hemisphere' (1977) dan 'Farrewell To a King' (1978).
Dalam album Hemisphere terdapat 1 lagu (Cygnus X-1) yang kemudian sempat dijadikan seminar astronomi tingkat dunia pada tahun 1979, karena berisikan syair tentang prediksi kiamat karena fenomena alam semesta / The Black Hole yang terjadi dalam salah satu rasi bintang Cygnus X-1, dimana merupakan temuan besar astronom/fisikawan mashur Stephen Hawking pada tahun 1971. Juga terdapat lagu-lagu yang menjadi klasik dan menjadi ikon dalam setiap konsernya, yaitu; The Threes dan La Villa Strangiato.
Memang yang unik dalam RUSH adalah kekuatan pada syairnya yang mencoba untuk menawarkan permenungan terhadap hal-hal yang universal, saintis - futuris bahkan kritikan perihal cara hidup kapitalisme dunia.... tidak ada lagu yang berthemakan cinta yang dihasilkan oleh grup band ini..... harap maklum, karena konon ketiga maestro ini berlatar belakang pendidikan teknik.
Permainan bass Geddy Lee juga menginspirasi permainan bass mendiang Cliff Burton, bassist kharismatik Metallica. Seperti diketahui grup band Metallica juga sebuah grup yang menggagas warna musik baru di-khazanah musik rock, yaitu aliran Trash Metal, yang ngetop diakhir tahun 80-an hingga pertengahan 90-an.
Keunikan lainnya adalah penulis syairnya selalu Neil Peart dan penggubah melodi-nya adalah Geddy Lee dan Alex Lifeson. Bahkan sampai pada album terbarunya; 'Snake and The Water' (2007).
Juga mereka termasuk patuh pada arahan produsernya perihal pilihan nuansa / warna musiknya yang tengah menjadi demam pada masa setiap album dikeluarkan.... misal;
- pada era heavy metal tahun 70-an, empat album tersebut di atas dirilis dengan konsep dimana musik heavy metal menjadi demam bagi penggemar musik rock.
- pada akhir 70-an, mereka mencoba untuk menawarkan konsep progressif rock dalam album 'Hemisphere' dan 'Farewell to a king'.
Pada awal 80-an, mereka kembali mencoba untuk menawarkan konsep musik New Wave, dimana tarikan vokal Geddy Lee diturunkan tensinya menjadi tidak 'ngotot' dan melengking melainkan cenderung datar. Juga pada album-album mereka di era ini, grup musik ini mulai aktif menggunakan synthesizer, sehingga mulai berkesan 'manis' dan mulai 'langsung enak didengar'.
Album pertama di-era new wave mereka adalah 'Permanent Wave', dengan tembang andalan Spirit of the radio (sempat hampir setahun menduduki peringkat atas deretan lagu-lagu favorit di UK tahun 1980) dan Freewill, juga Natural Science.
Pada album yang dirilis tahun 1981; 'Moving Picture', menurut saya album inilah yang menjadi album 'pertama' mereka dipenggemar musik tanah air dengan tembang 'pasarannya' ; Tom Sawyer. Seingat saya lagu ini amat-amat digandrungi oleh anak-anak smp seusia saya pada tahun 80-an di Malang sana. Juga Yyz dan Red Barchetta.
Menurut saya, pada tahun 80-an ini adalah era keemasan RUSH, yang dilanjutkan dengan era-era kharismatis-nya pada tahun-tahun setelahnya hingga kini.
Julukan mereka dalam setiap konser yang pasti dihadiri oleh puluhan ribu penggemarnya adalah 'the great band in this universe' (mungkin ini terkait dengan salah satu lagu di album 'Hemisphere' tersebut yang berhasil dijadikan perbincangan oleh kalangan astronomi tingkat dunia).
Konser mereka yang dikemas dalam album 'The Exit Stage Left Live' membuktikan akan hal ini. Dalam album 'Signal' (1982) - menurut saya relatif lemah, karena berupaya untuk menutup bayang-bayang album sebelumnya - yang unik dalam album ini adalah lagu yang berjudul Chemistry. Juga terdapat lagu-lagu andalan macam; Subdivisons, The New World Man dan The Analog Kid.
Pada 1984, mereka merilis album 'Grace Under Pressure' - yang menurut saya - tidak ada lagu yang dominan tapi bagus semua. Rancak dan dinamis. Tidak berlebihan bila saya menilainya sebagai album terbaik mereka selama 38 tahun ini.
Lagu-lagu nya seperti The Enemy Within, After Image, The Body Electric dan Distance Early Warning, seakan merupakan kumpulan konsep musik paduan antara heavy metal, progresif dan new wave dalam komposisi yang tepat...... ssssttttt dalam album ini pula potongan rambut Alex Lifeson berubah dari gondrong poni menjadi sisiran panjang pinggir ala Duran-Duran.... potongan rambutnya ini bertaham hingga saat ini, walaupun sekarang sudah menjadi lebih pendek potongannya.
Pada tahun 1985 dan 1987 grup musik ini sempat 'terjebak' untuk mengikuti aliran jazz fusion dalam albumnya; 'Power Window' dan 'Hold Your Fire'. Dalam kedua album ini, mereka melantunkan lagu-lagu yang justru nuansa menutupi ikon instrument dominan grup ini, yaitu permainan drum-nya Neil Peart.
Mungkin kedua album ini memang dirancang untuk menawarkan musik jazz rock pada penggemarnya. Tidak banyak lagu yang 'menggigit' dari kedua album tersebut, kecuali; The Big Money (ini lagu sindiran atas perilaku kapitalisme dunia), The Manhattan Project (kritikan atas dampak atas bom atom Hiroshima/Nagasaki), Hold Your Fire (ajakan perdamaian dunia pasca perang dingin), Time Standing Still, Prime Movers dan Force Ten.
Pada tahun 1988 mereka menggelar konser 'The Show Of Hands' . Saya punya piringan LD-nya. Menurut saya konser ini adalah konser terbaik dalam hal kualitas bemusiknya yang sangat prima di atas panggung dalam tempo 2,5 jam dengan membawakan lagu-lagu yang dinamis. Juga dalam konser ini Neil Peart benar-benar unjuk kebolehan dalam memainkan solo drum / Rythm Methods dengan menunjukkan kemampuannya dalam menggembuk drum dengan kecepatan 1/16 ketukan !
Dua album yang rilis pada tahun 1989 ('Presto') dan 1991 ('Roll The Bones'), merupakan era dimana mereka harus beradaptasi terhadap iklim bermusik balada dengan mengedepankan permainan dan kualitas drum yang 'alami' / bukan drum listrik.
Cukup menarik karena merupakan kumpulan lagu-lagu rock-ringan dengan tensi memainkan instrumen yang diturunkan oleh produsernya, yaitu; Rupert Hine, yang juga berpartisipasi sebagai pengisi shyntesizer.
Lagu-lagu yang menarik dalam kedua album ini adalah; The Pass, Show don't tell, Super Conductor, Bravado dan The Dream Line.
Setelah dua album yang 'kalem' tersebut, maka tahun 1993 mereka berganti produser dengan menelurkan album 'Counterpart' dimana mencoba untuk mengembalikan 'kejayaan' mereka dalam ber-new wave pada tahun 80-an. Cukup menarik karena terdapat lagu instrument Leave That Things Alone yang akhirnya menjadi lagu wajib pada setiap konsernya pasca tahun ini.
Sejak album ini, grup ini mulai memperpanjang produktifitasnya dari tradisi 2 tahunan menjadi 'molor' menjadi 3 tahun bahkan 5 tahun....pada tahun 1996 mereka merilis album 'Test for Echo' yang juga - menurut saya - mencoba untuk menawarkan kembali konsep bermusik metal dan bersaing dengan musisi-musisi jenis musik yang sama pada tahun tersebut.
Setelah konser 'Different Stage Lives' yang kebanyakan di Amrik, perlu waktu hampir 8 tahun mereka vakum (dimana terdapat kisah perjalanan permenungan Neil Peart yang keliling Amerika menggunakan motor gede-nya, konon dia hampir celaka dan menghadap sang penguasa. Perjalanan panjang ini sebagai pelampiasan atas duka mendalam setelah ditinggal Istri karena kanker dan anak perempuannya karena kecelakaan mobil. ), sebelum pada tahun 2004 mereka rilis album 'The Vapor Trails'.
Setelah album ini, mereka mulai 'menjarah' penggemarnya di negara dunia ketiga, yaitu dengan menggelar konser di Brazil. Mereka unjuk kebolehan bermusik di atas panggung dihadapan 30 ribu penggemarnya. Fisik prima mereka patut diacungi seluruh jempol yang kita miliki, karena hampir 3 jam mereka melantunkan tembang-tembangnya mulai yang lama dan terbaru..... dari tampilan DVD-nya ciamik, namun belum bisa mengalahkan totalitas 'The Show Of Hands'.
Namun aksi prima Neil Peart dalam bersolo drum memang top markotop, sip markosip !! ... menurut saya ini adalah aksi terbaik solo drum-nya Neil Peart. Bayangkan, kedua tangan dan kedua kakinya dapat bergerak mengaransir melody drum yang berbeda-beda dalam waktu bersamaan. Mungkin kemampuan drummer seperti itu tidak banyak di bumi ini.
Tahun 2007, mereka rilis album terbarunya 'Snake and Water'.... nah yang ini saya malah belum beli albumnya... tapi dugaan saya album ini berisikan lagu-lagu dan konsep musik yang 'hanya' mempertahankan kharismatiknya sebagai grup band kelas dunia, tidak menawarkan hal-hal baru karena telah diexplore habis-habisan pada tahun 70-80-an.
Demikian tambahan dari saya tentang RUSH... semoga saling mengisi dan menambah wawasan kita atas grup band yang juga fenomenal ini.
Regards,
Anton Joedijanto.
Medio Maret 2008.
Pernah saya posting di millist Club-80an.
Jumat, Januari 23, 2009
Mohon ijin belajar nulis format Inggris = Thanks God Its Friday.
This evening I have a plan to hanging out with my beloved wife.
Today is Friday. It is meaning that tommorow I will be having extraordinary time to be happy with my family for two days plus one day of Chineese new year. That's why now I have desire to spend my time just with my wife. Just both of us, like a new married couple.
Watching a movie sounds a great idea. I would prefer Planet Hollywod 21 studio which is showing a movie named; Red Cliff II.
My wife and I had already watch the previous serie of this movie in original DVD format a week ago.
So I just can't wait the time to go faster until 5 pm and I will meet my wife with her nice smile.
What would happen among us during the dark in the cinema, it is absolutely our business.
Regards,
Anton Joedijanto.
Jakarta, January 23, 2009
Today is Friday. It is meaning that tommorow I will be having extraordinary time to be happy with my family for two days plus one day of Chineese new year. That's why now I have desire to spend my time just with my wife. Just both of us, like a new married couple.
Watching a movie sounds a great idea. I would prefer Planet Hollywod 21 studio which is showing a movie named; Red Cliff II.
My wife and I had already watch the previous serie of this movie in original DVD format a week ago.
So I just can't wait the time to go faster until 5 pm and I will meet my wife with her nice smile.
What would happen among us during the dark in the cinema, it is absolutely our business.
Regards,
Anton Joedijanto.
Jakarta, January 23, 2009
Madiun Up Date.
Saya memiliki hubungan emosional yang dalam dengan kota Madiun. Bukan karena saya dilahirkan dan besar ataupun pernah tinggal lama di kota ini, melainkan karena kedua orang tua saya tinggal di kota ini.
Dalam sejarah kehidupan saya sampai saat ini, seingat saya, saya pernah tinggal hanya selama satu bulan di Madiun. Pada tahun 1994-an setelah saya lulus kuliah dan belajar setir mobil, karena sekolah nyetir mobil di Madiun biayanya relatif murah. Waktu itu saya punya rencana untuk bisa setir mobil sebagai bekal, jaga-jaga kalo saya nanti dapat pekerjaan di kota besar seperti Jakarta. Lha repotnya, setelah empat belasan tahun lebih kerja, saya tidak berani nyetir mobil di Jakarta. Lagi pula saya belum punya mobil.
Selebihnya dari selama sebulanan tersebut di atas, saya tinggal di Madiun dalam hitungan minggu bahkan hari, kalo nggak libur, cuti atau berlebaran sungkem sama orang tua.
Dan beberapa bulan yang lalu saya sempet mampir ke Madiun.
Madiun sekarang sudah mulai berubah menjadi kota Meropolis. Buktinya sudah ada hypermarket Giant dan Carrefour di sana.
Sebetulnya sayang, soalnya kalo berbelanja di pasar tradisional Madiun seperti Pasar Kawak atau Pasar Gede (yang kemarin barusan kebakar / masih dalam penyelidikan Polisi apakah di- atau ke-bakar) itu nyaman sekali. Pasarnya bersih, sosiologinya apik, yang jualan santun, tawar-menawarnya enak dan yang penting bisa nempur sama yang jualan. Apakah nempur beras atau nempur minyak.
Di seberang MT ada diskotik namanya Fire. Saya hanya membayangkan bagaimana model Clubbing di dalamnya karena kota Madiun itu atmosfer-nya pedesaan.
Tapi meskipun beratmosfer desa, Madiun mampu menunjukkan bukti sebagai kota yang berskala makmur. Ya makmur dalam pengertian dari hal yang paling sederhana yaitu kebersihan kota-nya, termasuk bahasan suasana pasar tersebut di atas.
Belum pengelolaan sampahnya. Apik. Madiun sempat beberapa kali mendapatkan piala Adipura, padahal –menurut cerita juga pengamatan saya- sebelum pertengahan hingga akhir 80-an, Madiun termasuk satu diantara beberapa kota yang terkotor di Jawa Timur.
Kalo kita jalan-jalan keliling Madiun, paling sip naik sepeda pancal atau mbecak atau bisa naik sepeda motor kalo nggak tahan panas terik siang hari, maka akan terlihat kondisi jalannya bersih, rata / jarang yang nggronjal-nggronjal yang menyebabkan sepeda atau becak jalannya mbendhal-mbendhal, lalu lintas teratur dan di beberapa daerah (poros jalan Diponegoro sampai jalan Pahlawan) akan mudah tercium bau aroma bakaran daging sate kambing/ayam.
Juga menurut saya tingkat pengangguran di kota ini juga rendah. Buktinya jarang sekali ditemui adanya pengemis/pengamen di pusat-pusat pembelanjaan. Atau mungkin justru mereka pindah untuk menjadi pengemis/pengamen di kota lainnya, itu yang belum saya dapatkan gambarannya.
Menurut saya, tingkat kemakmuran kota Madiun ‘hanya’ mengandalkan produk pertanian (sentra padi poros Ngawi-Caruban), sentra jalur transportasi kereta api (dilewati oleh macam-macam kereta api jurusan arah ke wilayah barat lewat jalur selatan) dan industri gerbong kereta api. Juga industri gula putih (ada beberapa pabrik gula putih yang beroperasi sedjak jaman Indonesia masih bernama Hindia Belanda) serta wilayah strategis militer AU.
Wah, lha kalo gitu tidak hanya 'hanya' donk. Poinnya adalah pemerintah daerah Madiun mampu mengelola pemasukan daerahnya untuk dijadikan pemastian kemakmuran masyarakatnya.
Madiun dari dulu masih berkesan menjadi kota yang sepi, kecuali pas lebaran tiba.
Byuh, orang-orang yang menjadi pengembara di beberapa kota besar di Indonesia (juga mungkin di luar negeri) tumpek blek kalo pas lebaran. Bisa ngantri panjang kalo mau andhok nasi pecel di daerah Sleko, pas malam hari.
Ciri khas suasana panas teriknya juga masih ada sampai sekarang. Istilahnya panas ngenthang-ngenthang kalo siang hari tanpa hujan. Tapi justru cuaca tetap seperti inilah yang menyebabkan wanita Madiun itu kebanyakan berparas manis sampai ayu. Jarang ada cewek Madiun yang berjerawat, menurut saya.
Hal ini karena –mungkin- mulai kecil mereka sering menyeka keringat karena panas ngenthang… jadinya kulit pipinya dan beberapa wilayah sekitar wajahnya menjadi halus. Kalo warna kulit apakah sawo matang, coklat, kuning langsat hingga putih, itu sudah turunan genetika.
Juga abab-nya menurut saya beraroma khas, karena –mungkin- pengaruh kualitas air sumur di Madiun yang banyak mengandung Kalsium.
(Note: untuk topik yang mengulas abab, akan saya bahas tersendiri.)
Madiun memang kota di mana menjadi perbatasan kultur antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kalo didengar dari dialek dan cara penuturan, bahasanya relatif halus dibandingkan dengan dialek Jawa Timur-an poros Surabaya-Malang. Tata bahasa dan dialek Madiun itu sudah kebarat-barat-an (baca= kulonan, hampir sama dengan Surakarta walau tidak sehalus Surakarta).
Kuliner-nya juga demikian. Apa yang ada di Jawa Tengah tapi tidak seberapa disukai orang Jawa Timur ada di Madiun, seperti: Tong Seng, Sop Kambing, Timlo, Tengkleng (ini sangat dimungkinkan ada pengaruh kuliner Solo)
Sebaliknya, beberapa kuliner yang ada di Jawa Timur tapi nggak seberapa disukai sama orang Jawa Tengah, juga ada di Madiun, kayata; Rujak Cingur, Tahu Campur, Tahu Tek-Tek (pengaruh Surabaya untuk makanan berbasis petis) dan Rawon daging yang kuahnya berwarna hitam kecoklatan karena menggunakan kluwek.
Tingkat inflasi di Madiun juga cukup rendah. Lha buktinya harga sepotong Intip Kertan (Jadah bakar) yang pada tahun 90-an masih 50 rupiah, sekarang cukup menjadi 150 rupiah.
Demikian laporan sekilas tentang Madiun (bacaan dalam bahasa Jawa-nya= Mediyun. Konon dari asal kata 'ono Medi lagi Ayun-ayun'...)
Gara-gara hubungan emosional tadi, saya punya cita-cita juga nanti kalo punya rejeki pas pensiun mau menghabiskan masa pensiun di kota Madiun ini. Selain tingkat ekonomi kehidupan kotanya yang memungkinkan bagi pensiunan, juga saya ini cocoknya hidup di daerah panas. Kalo saya hidup di daerah dingin, kulit kaki saya pecah-pecah.
Salam,
Anton Joedijanto.
23 Januari 2009.
Dalam sejarah kehidupan saya sampai saat ini, seingat saya, saya pernah tinggal hanya selama satu bulan di Madiun. Pada tahun 1994-an setelah saya lulus kuliah dan belajar setir mobil, karena sekolah nyetir mobil di Madiun biayanya relatif murah. Waktu itu saya punya rencana untuk bisa setir mobil sebagai bekal, jaga-jaga kalo saya nanti dapat pekerjaan di kota besar seperti Jakarta. Lha repotnya, setelah empat belasan tahun lebih kerja, saya tidak berani nyetir mobil di Jakarta. Lagi pula saya belum punya mobil.
Selebihnya dari selama sebulanan tersebut di atas, saya tinggal di Madiun dalam hitungan minggu bahkan hari, kalo nggak libur, cuti atau berlebaran sungkem sama orang tua.
Dan beberapa bulan yang lalu saya sempet mampir ke Madiun.
Madiun sekarang sudah mulai berubah menjadi kota Meropolis. Buktinya sudah ada hypermarket Giant dan Carrefour di sana.
Sebetulnya sayang, soalnya kalo berbelanja di pasar tradisional Madiun seperti Pasar Kawak atau Pasar Gede (yang kemarin barusan kebakar / masih dalam penyelidikan Polisi apakah di- atau ke-bakar) itu nyaman sekali. Pasarnya bersih, sosiologinya apik, yang jualan santun, tawar-menawarnya enak dan yang penting bisa nempur sama yang jualan. Apakah nempur beras atau nempur minyak.
Menikmati sarapan pagi berupa lontong pecel pincuk di Pasar Kawak merupakan kenikmatan tersendiri, sambil ngobrol pake bahasa Jawa dengan penikmat sebelah, ditengah-tengah orang yang lagi bertransaksi barang dagangan di dalam pasar, biasanya sembako dan pernik bumbu-bumbu-an dapur.
Bioskop yang –dulu- bergengsi bernama Madiun Theater (MT) sudah bubar, diganti semacam rumah makan berbentuk food court. Tapi bioskop yang ada di dekat alun-alun yang biasanya suka muter film-film panas (ini bukan panas kebakaran tapi panas jenis HOT untuk ukuran 17 tahun ke atas, bukan ke samping) alias adegan ranjang (ini juga bukan adegan ranjang sekedar melipat sprei atau menata sarung bantal dan guling di atas ranjang tapi dua orang berlainan jenis yang berguling-guling di atasnya sambil mengumbar hasrat).Di seberang MT ada diskotik namanya Fire. Saya hanya membayangkan bagaimana model Clubbing di dalamnya karena kota Madiun itu atmosfer-nya pedesaan.
Tapi meskipun beratmosfer desa, Madiun mampu menunjukkan bukti sebagai kota yang berskala makmur. Ya makmur dalam pengertian dari hal yang paling sederhana yaitu kebersihan kota-nya, termasuk bahasan suasana pasar tersebut di atas.
Belum pengelolaan sampahnya. Apik. Madiun sempat beberapa kali mendapatkan piala Adipura, padahal –menurut cerita juga pengamatan saya- sebelum pertengahan hingga akhir 80-an, Madiun termasuk satu diantara beberapa kota yang terkotor di Jawa Timur.
Kalo kita jalan-jalan keliling Madiun, paling sip naik sepeda pancal atau mbecak atau bisa naik sepeda motor kalo nggak tahan panas terik siang hari, maka akan terlihat kondisi jalannya bersih, rata / jarang yang nggronjal-nggronjal yang menyebabkan sepeda atau becak jalannya mbendhal-mbendhal, lalu lintas teratur dan di beberapa daerah (poros jalan Diponegoro sampai jalan Pahlawan) akan mudah tercium bau aroma bakaran daging sate kambing/ayam.
Juga menurut saya tingkat pengangguran di kota ini juga rendah. Buktinya jarang sekali ditemui adanya pengemis/pengamen di pusat-pusat pembelanjaan. Atau mungkin justru mereka pindah untuk menjadi pengemis/pengamen di kota lainnya, itu yang belum saya dapatkan gambarannya.
Menurut saya, tingkat kemakmuran kota Madiun ‘hanya’ mengandalkan produk pertanian (sentra padi poros Ngawi-Caruban), sentra jalur transportasi kereta api (dilewati oleh macam-macam kereta api jurusan arah ke wilayah barat lewat jalur selatan) dan industri gerbong kereta api. Juga industri gula putih (ada beberapa pabrik gula putih yang beroperasi sedjak jaman Indonesia masih bernama Hindia Belanda) serta wilayah strategis militer AU.
Wah, lha kalo gitu tidak hanya 'hanya' donk. Poinnya adalah pemerintah daerah Madiun mampu mengelola pemasukan daerahnya untuk dijadikan pemastian kemakmuran masyarakatnya.
Madiun dari dulu masih berkesan menjadi kota yang sepi, kecuali pas lebaran tiba.
Byuh, orang-orang yang menjadi pengembara di beberapa kota besar di Indonesia (juga mungkin di luar negeri) tumpek blek kalo pas lebaran. Bisa ngantri panjang kalo mau andhok nasi pecel di daerah Sleko, pas malam hari.
Ciri khas suasana panas teriknya juga masih ada sampai sekarang. Istilahnya panas ngenthang-ngenthang kalo siang hari tanpa hujan. Tapi justru cuaca tetap seperti inilah yang menyebabkan wanita Madiun itu kebanyakan berparas manis sampai ayu. Jarang ada cewek Madiun yang berjerawat, menurut saya.
Hal ini karena –mungkin- mulai kecil mereka sering menyeka keringat karena panas ngenthang… jadinya kulit pipinya dan beberapa wilayah sekitar wajahnya menjadi halus. Kalo warna kulit apakah sawo matang, coklat, kuning langsat hingga putih, itu sudah turunan genetika.
Juga abab-nya menurut saya beraroma khas, karena –mungkin- pengaruh kualitas air sumur di Madiun yang banyak mengandung Kalsium.
(Note: untuk topik yang mengulas abab, akan saya bahas tersendiri.)
Madiun memang kota di mana menjadi perbatasan kultur antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kalo didengar dari dialek dan cara penuturan, bahasanya relatif halus dibandingkan dengan dialek Jawa Timur-an poros Surabaya-Malang. Tata bahasa dan dialek Madiun itu sudah kebarat-barat-an (baca= kulonan, hampir sama dengan Surakarta walau tidak sehalus Surakarta).
Kuliner-nya juga demikian. Apa yang ada di Jawa Tengah tapi tidak seberapa disukai orang Jawa Timur ada di Madiun, seperti: Tong Seng, Sop Kambing, Timlo, Tengkleng (ini sangat dimungkinkan ada pengaruh kuliner Solo)
Sebaliknya, beberapa kuliner yang ada di Jawa Timur tapi nggak seberapa disukai sama orang Jawa Tengah, juga ada di Madiun, kayata; Rujak Cingur, Tahu Campur, Tahu Tek-Tek (pengaruh Surabaya untuk makanan berbasis petis) dan Rawon daging yang kuahnya berwarna hitam kecoklatan karena menggunakan kluwek.
Tingkat inflasi di Madiun juga cukup rendah. Lha buktinya harga sepotong Intip Kertan (Jadah bakar) yang pada tahun 90-an masih 50 rupiah, sekarang cukup menjadi 150 rupiah.
Demikian laporan sekilas tentang Madiun (bacaan dalam bahasa Jawa-nya= Mediyun. Konon dari asal kata 'ono Medi lagi Ayun-ayun'...)
Gara-gara hubungan emosional tadi, saya punya cita-cita juga nanti kalo punya rejeki pas pensiun mau menghabiskan masa pensiun di kota Madiun ini. Selain tingkat ekonomi kehidupan kotanya yang memungkinkan bagi pensiunan, juga saya ini cocoknya hidup di daerah panas. Kalo saya hidup di daerah dingin, kulit kaki saya pecah-pecah.
Salam,
Anton Joedijanto.
23 Januari 2009.
Kamis, Januari 22, 2009
'Perihal; Grup Band Genesis.'

Bagi saya Genesis masih merupakan grup band dengan lagu-lagunya yang masih melekat di telinga saya sampai saat ini. Nggak kebayang ketika member band ini mengeluarkan album-album masterpiece mendunia pada usia 20-an tahun;
- Peter Gabriel
- Stephen Hackett
- Tony Banks
- Phil Collins
- Mike Rutherford ... (yang permainan bass-nya seolah tersembunyi / nggak dominan tapi kalo didengar baik-baik, permainannya bak orang jawa yang sedang klangenan...).
Hampir semua albumnya saya punya, kecuali yang keluaran pertama tahun 1968; 'From Genesis To Revelation'. Saya sempet denger 1-2 lagu di dalamnya antara lain; In Hidding dan The Conqueror. Menurut saya dalam album ini belum terdengar konsep musik mereka yang 'aneh', syair saintis dan semacam dongeng-dongeng mitos/legenda atau cerita-cerita kondisi sosial di Inggris pada abad pertengahan.
Pada album 'Trespass' (1971), konsep musik mereka mulai kentara. Menurut saya album-album Genesis era Peter Gabriel dan Phil Collins masing-masing punya masterpiece sendiri-sendiri.
'Album Selling England By The Pound' tahun 1974 dijadikan acuan habis-habisan oleh musisi-musisi Indonesia era tahun 70-an (grupnya Eros Djarot, Keenan Nasution dll.) ketika mengeluarkan album Badai Pasti Berlalu, salah satu lagu yang berjudul (kalo nggak salah) = Melody, pada bagian refrein-nya, terdapat satu nukilan aransemen melodi yang mirip dengan salah satu bagian lagu After The Ordeal.
Dalam album ini terdapat sebuah lagu yang merupakan metafora kisah cinta antara Romeo & Juliet tapi dalam kondisi sosial masa kini (tahun 70-an) yaitu; The Cinema Show.
Dalam album ini terdapat sebuah lagu yang merupakan metafora kisah cinta antara Romeo & Juliet tapi dalam kondisi sosial masa kini (tahun 70-an) yaitu; The Cinema Show.
Mendengarkan musik dan syair grup band Genesis era Peter Gabriel itu seperti mendengarkan dongeng-dongeng yang bisa jadi di negeri antah berantah. Seperti lagu The Fountain Of Salmacis (album 'Nursery Crime', keluaran 1972), yang menceritakan ada anak dewa yang dihukum menjadi hermaprodit gara-gara meminum air Salmacis..... hebatnya bisa dibikin lagu yang bisa didengar dengan melodi yang unik.
Ada juga lagu yang panjangnya nggak ketulungan, sampai 20-an menit; Supper's Ready dari album 'Foxtrot', keluaran 1972. Saya nggak bisa membayangkan, bagaimana mereka mengaransemen, memainkan dan merekam lagu ini. Padahal tahun 70-an teknologi rekaman musik belum memungkinkan untuk dilakukan pengulangan-pengulangan pada bait-bait / melodi-melodi tertentu. Jadi mereka mainnya langsung direkam, termasuk improvisasi-improvisasi yang dilakukannya secara spontan.
Sayangnya - namun keputusan ini yang menurut saya menjadikan Genesis tetap melegenda - Peter Gabriel harus mengundurkan diri setelah album 'The lambs lies down on Broadway', keluaran 1975. Lagu-lagu seperti The carpets crawlers, In the cage dan The colony of slippermen, menunjukkan kemampuan mereka dalam melakukan eksplorasi konsep bermusik dan bersyair di dalamnya.
Pada era Phil Collins, sempat 2 album grup yang memang diawaki personil-personil yang jenius dalam bermusik ini gamang dalam menawarkan model melodi dan gubahan syair pasca ditinggalnya Peter Gabriel.
Kedua album itu; 'Wind and wuthering' dan 'Trick of tail' keduanya pada kisaran tahun 1976 dan 1977, menurut saya melodi-melodi dan syair dalam kedua album ini sedikit 'memaksa' dengan karakter vokal Phil Collins.... tapi masih asyik juga (dasar nge-fans !)... apalagi kalo denger lagu One for The Vine, In The Quiet Earth, Squonk dan Los Endos dalam kedua album itu....... wah wah wah... kombinasi permainan intrument; melodi, bas, synthesizer dan drum-nya.... hhmmmmm membawa ke alam nirwana... apalagi kalo didengar di daerah yang berhawa sejuk kayak malang..... SIP.... wis pokok-e jan jos gandhos !
Pada tahun 1977 mereka melakukan konser musik yang menggunakan teknologi dry ice pertama di dunia . Setelah konser yang direkam dalam album 'Seconds Out' itu (salah satu bintang tamu dalam konser itu adalah drumer YES= Bill Bruford), gitarisnya Stephen Hackett hengkang dari Genesis (dia sempat bikin 1 album yang juga sempat dibicarakan anak-anak penyuka musik rock progresive pada akhir 80-an bersama Stewe Howe/gitaris YES dengan membentuk grup band bernama = GTR).
Dalam konser itu, permainan melody gitar Stephen Hackett dalam lagu fenomenal The Firth of Fifth serasa dalam dan menyeruak ke dalam relung sanubari terdalam, yang mampu membawa pendengarnya menerawang ke alam lain; menembus ruang dan waktu.
Dalam konser itu, permainan melody gitar Stephen Hackett dalam lagu fenomenal The Firth of Fifth serasa dalam dan menyeruak ke dalam relung sanubari terdalam, yang mampu membawa pendengarnya menerawang ke alam lain; menembus ruang dan waktu.
Album 'and then there were three' 1978 akhirnya hanya diawaki oleh 3 orang personilnya saja; Phil Collins, Tony Banks dan Mike Rutherford. Sekali lagi pada album ini, konsep musiknya juga 'memaksa' baik syair maupun gubahan melodinya. Bahkan Mike Rutherford yang biasanya nge-bass, menurut saya, juga dipaksa untuk menjadi mirip dengan sayatan gitarnya Steve hackett. Beberapa lagunya juga dijadikan referensi pemusik-pemusik Indonesia (grup Gank Pegangsaan), seperti; The Burning Rope, Follow you follow me dan Many too many.
Pada tahun 1980, mendadak sontak konsep bermusik mereka berubah total; lebih mendekati new wave, tapi tetap dengan nuansa 'aneh' dan dalam satu album menceritakan satu cerita yang runtut, yakni 'Duke'. Menurut saya, album ini adalah masterpiece-nya era Phil Collins.... dan era dimulainya konsep melodi musiknya berubah.... dari syahdu menjadi menghentak.
Saya sendiri baru kenal Genesis pada tahun 83-an, masih smp, pake celana pendek warna biru tua (dengan dengkul berwarna kecoklatan gara-gara di smp saya maktu itu ada kewajiban ngepel kelas).
Pas lagi ngetop-ngetopnya lagu Mama dan Home by The Sea dari album 'Genesis'. Karena jatuh cinta sama Genesis jadilah saya berburu ke album-album sebelumnya.
Album tersebut merupakan awal perubahan konsep musik grup band ini dari model progresive rock yang klasik dengan syair yang bernuansa dongeng dan sci-fi menjadi pop rock dengan syair yang berthemakan tentang cinta dan kritik sosial.
Seperti album 'Invicible touch', keluaran 1987 yang dalam beberapa lagu-nya merefleksikan kritik sosial atas berlakunya suatu sistem yang salah tapi terlanjur mendunia, yaitu; The Domino dan beberapa syahdu berthemakan cinta dengan syair yang dalam seperti Into deep.
Album 'We can dance', keluaran 1992, lebih memantapkan lagi bahwa Genesis telah beralih menjadi grup band pop rock dengan thema cinta dan kritik sosial yang menjadi andalan, seperti; Hold on my heart, No son of mine dan Driving the last spike (lagu ini menceritakan tentang beratnya kehidupan kaum buruh Inggris yang mengerjakan proyek rel kereta api di abad 19).
Kalo diperhatikan, pada era Phil Collins, ada bedanya karakter vokal Phil Collins pas nyanyi single dan nyanyi untuk Genesis. Untuk Genesis, karakter vokal Phil Collins sedikit 'ngotot'. Setelah tahun 2002-an sempet operasi pita suara, pasti ada beda kualitas suaranya.
Album terakhir Genesis Calling all the station, keluaran 1996, dirilis setelah Phil Collins memutuskan undur diri dari Genesis, tahun 1995. Dalam album ini, menurut saya lebih menunjukkan dominasi Tony Banks dalam mengaransemen musik dan menuliskan syair di dalamnya.
Pada tahun 1999, pernah digagas adanya reuni Genesis dengan formasi klasik. Sayangnya belum terealisasi. Mungkin faktor ego dalam berkonsep musik, setelah masing-masing personilnya telah menjadi musisi yang sukses. Dalam album kompilasi lagu terbaiknya keluaran tahun 1999, lagu The Carpets Crawlers sempat di daur ulang, dimana seluruh personil lamanya memainkan setiap instrument persis sama ketika lagu ini dimainkan 25-an tahun sebelumnya.
Baru-baru ini Genesis formasi Phil Collins melakukan konser reuni dan direkam. Saya belum punya yang rekaman CD album Live 2007.... saya liat di salah satu toko CD di PIM 2 lantai 4 kemarin ada.
Jaman sekarang memang jamannya audio CD, yang menawarkan kualitas suara bening, jelas tanpa distorsi. Tapi masalahnya, kuping saya ini termasuk kuping orang-orang ketika kualitas pita kaset dirasakan sebagai perwujudan kualitas suara yang terbaik pula, pada jamannya. Jadi seringkali saya rindu dengan suara kresek-kresek keluaran audio Tape (bacanya Tip, bukan Tape camilan yang diproduksi orang Bandung sebagai peuyeum itu) recorder. Kangen dengan suasana hati yang menunggu alunan melodi musik setelah suara kresek-kresek beberapa saat sebelum intro sebuah lagu masuk dari audio Tape (sekali lagi dibaca; Tip, huruf 'i' seolah ada penekanan huruf 'e' dalam konotasi rendah).
Pada jaman saya smp-sma dulu, perusahaan kaset yang khusus mengkopi grup-grup musik progresive namanya YESS, harganya 1.25 K atau 1250 rupiah.... sampulnya unik warna hijau atau biru gradasi putih dan ada logo grup musik YES (jaman masih boleh beredar kaset bajakan).
Demikianlah ulasan saya tentang grup band Genesis. Nanti saya juga akan ulas juga beberapa grup progresive rock tahun 70-an yang berimbas mendunia - setidaknya menjadi inspirasi bagi musisi di Indonesia - pada 80-an, macam; YES, Pink Floyd, ELP, Rush, marillion dll.
Anton Joedijanto,
Medio Pebruari 2008.
(sebagian saya posting dalam milis Club-80)
'Gerbang Dara.'

Dear All,
Siang ini, ijinkan saya untuk dapat sharing betapa banyak manfaat ketika kita bisa melakukan GERakan Bawa bekal / rantANG DAri RumAh.
Begini;
Sudah hampir 2 bulanan ini saya seringkali membawa makan siang yang orisinil masakan orang rumah, bisa masakan istri saya atau ibu mertua saya ketika berkunjung ke rumah saya yang kangen sama cucu-cucu-nya.
Banyak hal yang kemudian saya renungkan (sambil makan bekal rumahan itu) banyaknya manfaatnya, diantaranya;
1) Dijamin kebersihannya.
Setidaknya saya tahu persis kondisi dapur tempat memasak masakan bekal itu plus kebersihan peralatan masaknya.
Peralatan masak dan makan serta cara memasak, sangat penting diperhatikan tingkat kebersihannya supaya kita bisa terhindar dari ‘vitamin’-‘vitamin’ (ini bukan vitamin yang sebenarnya karena diimbuhi tanda petik di dalamnya) yang tidak diinginkan.
Saya punya pengalaman di salah satu rumah makan ketika makan siang di luar kantor. Pas saya ke toilet…lha dhalah, ternyata tempat cuci piring ada jadi satu di dalamnya. Dalam hal ini, tentunya masakan yang disajikan berpotensi mengandung ‘vitamin’ ‘E’ (ini juga bukan E yang sebenarnya, karena juga diimbuhi tanda petik).
Belum lagi kalo ternyata di dalam dapur rumah makan itu banyak Zorro-nya (baca = Coro / Kecoa) yang suka simpang siur di piring, sendok, garpu dan lain sebagainya. Sekali lagi, kita berpotensi terpapar ‘vitamin’, yang dikategorikan sebagai ‘vitamin’ ‘C’.
Dan yang paling HOT, adalah ketika para penjual makanan (yang juga pemasak masakan) di gerobak-gerobak dorong seperti; mie ayam, gado-gado, rujak buah, gorengan maupun soto ayam, yang kebanyakan adalah laki-laki.
Bisa dibayangkan, kalo mereka kebelet buang air kecil/pipis, karena biasanya beroperasi di jalanan maka kebanyakan akan pipis tidak di toilet umum. Dus berarti kedua telapak tangannya tidak dicuci setelah melakukan ritual pipis, dimana untuk kaum laki-laki pasti beberapa jemari tangannya (apakah tangan kanan atau tangan kiri) akan memegangi ‘As’-nya selama pipis (bahasa Jawa-nya ; di-tatur).
Tanpa cuci tangan, langsung masak. Nah, betapa lagi-lagi kita berpotensi mendapatkan asupan ‘vitamin’ yang kali ini namanya adalah ‘vitamin’ ‘K’ !
2) Menggunakan alat makan yang biasa digunakan keluarga.
Karena setidaknya saya tahu persis bagaimana perangkat makan itu dikelola/dirawat kebersihannya.
Kebayang kalo menggunakan sendok/garpu yang juga digunakan oleh orang lain. Iya kalo sendok makan bekas mulutnya Luna Maya atau Dian Sastro, menurut saya nggak masalah… lha kalo bekas mulutnya Budi Anduk (Tawa Sutra)… atau Tukul, nah ini yang perlu pertimbangan masak-masak.
3) Iritasi ! (maksudnya program pengiritan).
Sekali makan siang paling murah +- Rp. 9 ribu-an (nasi, lauk ikan/ayam, sayur dan teh tawar), itu kalo di kantin atau di Tria Dipa atau di warung makan seberang jalan dekat taman sana.
Lha kalo bawa bekal dari rumah, it’s absolutely free …. jadi uang untuk jatah makan siang bisa ditabung untuk akhir bulan dibelikan DVD / CD musik Original (misalnya).
4) Dengan menikmati masakan bekal dari rumah, kita bisa di-stimulasi untuk senantiasa inget sama orang rumah (baca = Istri dan anak-anak)…
Maklum, di Jakarta banyak goda-an ;) ….
Setidaknya dengan bawa bekal masakan rumah pas makan siang, bisa dihindari step-step berikut ini ;
- pertama makan siang bareng-bareng….
- sambil makan rame-rame sambil cerita sana-sini bahas hal-hal yang populer……
- lama-lama cuman makan siang berduaan dengan topik obrolan yang bernuansa curhat dari hati ke hati….
- lama-lama…… lama-lama……. ya lama-lama !
5) Menu masakan bekal dari rumah, biasanya dicukup-kan…
Jadi kita bisa menikmati makan siang dengan takaran yang pas, tidak kurang tidak lebih…. Apalagi nanti biasanya ada yang mau coba-coba incip sesendok dua sendok…. artinya jatah semakin berkurang. Dus berarti konsep ini cocok pula untuk mereka yang sedang diet.
Setidaknya 5 hal itulah yang sudah saya renungkan siang ini ketika saya menikmati menu bekal makan masakan orang rumah periode hari ini ; nasi putih, oseng daun pepaya, sambel teri dan ayam goreng tepung bagian paha sebelah kanan (lebih besar), plus jus jambu tanpa gula dan tanpa es (kalo yang ini pesan nitip sama Mas Cleaning Service.
Jadi hari ini jatah tabungan saya berkurang 3500 rupiah, plus tips buat Mas itu, yang jumlahnya saya rahasiakan. Tapi nggak masalah, karena kemarin saya sudah beli CD-nya Metallica album = Death Magnetic dan VCD Kung Fu Panda, hasil nabung sebulan).
Apabila dinilai Gerbang Dara ini berdampak menjadi tidak gaul, karena akan ter-stimulasi penikmatnya menikmati makan siang di dalam ruang kantor, bukan-kah nanti kita bisa rame-rame makan bekal itu di kantin atau tempat lainnya….. cuman pesen minum. Dus berarti, ngirit dapat, gaul dapat….
Paling resikonya cuman di-bathin sama pemilik kantin = “..waduh ‘rek….keliatannya kaya tapi kok cuman pesen minum doank…”
Tapi juga jangan keseringan makan masakan rumah di kantin/warung orang…. salah-salah nanti pemilik kantin atau warung itu akan melakukan Gemlonas…..
Apa itu Gemlonas ?.... Gemlonas itu singkatan dari; Gerakan MLOngo NASional.
Demikian Bapak dan Ibu yang budiman, sharing siang hari ini.
Semoga berkenan & bermanfaat.
Best Regards,
Anton Joedijanto.
Siang ini, ijinkan saya untuk dapat sharing betapa banyak manfaat ketika kita bisa melakukan GERakan Bawa bekal / rantANG DAri RumAh.
Begini;
Sudah hampir 2 bulanan ini saya seringkali membawa makan siang yang orisinil masakan orang rumah, bisa masakan istri saya atau ibu mertua saya ketika berkunjung ke rumah saya yang kangen sama cucu-cucu-nya.
Banyak hal yang kemudian saya renungkan (sambil makan bekal rumahan itu) banyaknya manfaatnya, diantaranya;
1) Dijamin kebersihannya.
Setidaknya saya tahu persis kondisi dapur tempat memasak masakan bekal itu plus kebersihan peralatan masaknya.
Peralatan masak dan makan serta cara memasak, sangat penting diperhatikan tingkat kebersihannya supaya kita bisa terhindar dari ‘vitamin’-‘vitamin’ (ini bukan vitamin yang sebenarnya karena diimbuhi tanda petik di dalamnya) yang tidak diinginkan.
Saya punya pengalaman di salah satu rumah makan ketika makan siang di luar kantor. Pas saya ke toilet…lha dhalah, ternyata tempat cuci piring ada jadi satu di dalamnya. Dalam hal ini, tentunya masakan yang disajikan berpotensi mengandung ‘vitamin’ ‘E’ (ini juga bukan E yang sebenarnya, karena juga diimbuhi tanda petik).
Belum lagi kalo ternyata di dalam dapur rumah makan itu banyak Zorro-nya (baca = Coro / Kecoa) yang suka simpang siur di piring, sendok, garpu dan lain sebagainya. Sekali lagi, kita berpotensi terpapar ‘vitamin’, yang dikategorikan sebagai ‘vitamin’ ‘C’.
Dan yang paling HOT, adalah ketika para penjual makanan (yang juga pemasak masakan) di gerobak-gerobak dorong seperti; mie ayam, gado-gado, rujak buah, gorengan maupun soto ayam, yang kebanyakan adalah laki-laki.
Bisa dibayangkan, kalo mereka kebelet buang air kecil/pipis, karena biasanya beroperasi di jalanan maka kebanyakan akan pipis tidak di toilet umum. Dus berarti kedua telapak tangannya tidak dicuci setelah melakukan ritual pipis, dimana untuk kaum laki-laki pasti beberapa jemari tangannya (apakah tangan kanan atau tangan kiri) akan memegangi ‘As’-nya selama pipis (bahasa Jawa-nya ; di-tatur).
Tanpa cuci tangan, langsung masak. Nah, betapa lagi-lagi kita berpotensi mendapatkan asupan ‘vitamin’ yang kali ini namanya adalah ‘vitamin’ ‘K’ !
2) Menggunakan alat makan yang biasa digunakan keluarga.
Karena setidaknya saya tahu persis bagaimana perangkat makan itu dikelola/dirawat kebersihannya.
Kebayang kalo menggunakan sendok/garpu yang juga digunakan oleh orang lain. Iya kalo sendok makan bekas mulutnya Luna Maya atau Dian Sastro, menurut saya nggak masalah… lha kalo bekas mulutnya Budi Anduk (Tawa Sutra)… atau Tukul, nah ini yang perlu pertimbangan masak-masak.
3) Iritasi ! (maksudnya program pengiritan).
Sekali makan siang paling murah +- Rp. 9 ribu-an (nasi, lauk ikan/ayam, sayur dan teh tawar), itu kalo di kantin atau di Tria Dipa atau di warung makan seberang jalan dekat taman sana.
Lha kalo bawa bekal dari rumah, it’s absolutely free …. jadi uang untuk jatah makan siang bisa ditabung untuk akhir bulan dibelikan DVD / CD musik Original (misalnya).
4) Dengan menikmati masakan bekal dari rumah, kita bisa di-stimulasi untuk senantiasa inget sama orang rumah (baca = Istri dan anak-anak)…
Maklum, di Jakarta banyak goda-an ;) ….
Setidaknya dengan bawa bekal masakan rumah pas makan siang, bisa dihindari step-step berikut ini ;
- pertama makan siang bareng-bareng….
- sambil makan rame-rame sambil cerita sana-sini bahas hal-hal yang populer……
- lama-lama cuman makan siang berduaan dengan topik obrolan yang bernuansa curhat dari hati ke hati….
- lama-lama…… lama-lama……. ya lama-lama !
5) Menu masakan bekal dari rumah, biasanya dicukup-kan…
Jadi kita bisa menikmati makan siang dengan takaran yang pas, tidak kurang tidak lebih…. Apalagi nanti biasanya ada yang mau coba-coba incip sesendok dua sendok…. artinya jatah semakin berkurang. Dus berarti konsep ini cocok pula untuk mereka yang sedang diet.
Setidaknya 5 hal itulah yang sudah saya renungkan siang ini ketika saya menikmati menu bekal makan masakan orang rumah periode hari ini ; nasi putih, oseng daun pepaya, sambel teri dan ayam goreng tepung bagian paha sebelah kanan (lebih besar), plus jus jambu tanpa gula dan tanpa es (kalo yang ini pesan nitip sama Mas Cleaning Service.
Jadi hari ini jatah tabungan saya berkurang 3500 rupiah, plus tips buat Mas itu, yang jumlahnya saya rahasiakan. Tapi nggak masalah, karena kemarin saya sudah beli CD-nya Metallica album = Death Magnetic dan VCD Kung Fu Panda, hasil nabung sebulan).
Apabila dinilai Gerbang Dara ini berdampak menjadi tidak gaul, karena akan ter-stimulasi penikmatnya menikmati makan siang di dalam ruang kantor, bukan-kah nanti kita bisa rame-rame makan bekal itu di kantin atau tempat lainnya….. cuman pesen minum. Dus berarti, ngirit dapat, gaul dapat….
Paling resikonya cuman di-bathin sama pemilik kantin = “..waduh ‘rek….keliatannya kaya tapi kok cuman pesen minum doank…”
Tapi juga jangan keseringan makan masakan rumah di kantin/warung orang…. salah-salah nanti pemilik kantin atau warung itu akan melakukan Gemlonas…..
Apa itu Gemlonas ?.... Gemlonas itu singkatan dari; Gerakan MLOngo NASional.
Demikian Bapak dan Ibu yang budiman, sharing siang hari ini.
Semoga berkenan & bermanfaat.
Best Regards,
Anton Joedijanto.
Jakarta, 22 Desember 2008.
Rabu, Januari 21, 2009
'Black Hole = Kiamat yang nyata ?'
Perihal aktifitas Blackhole yang dahsyat, jadinya saya membayangkan seandainya bumi kita ini bersinggungan dengan zarah monster kosmik ini… mungkin ini yang disebut kiamat, dimana digambarkan dalam ayat suci: gunung-gunung berhamburan seperti kapas, manusia berterbangan seperti anai-anai, matahari dan bulan menjadi satu serta matahari bergulung-gulung…..Pada tahun 1971, astronom-fisikawan Stephen Hawking menemukan fenomena Black Hole…. pada gugusan rasi bintang Cygnus X-1 di galaksi Bimasakti yang berjarak 10 ribu tahun cahaya….. (nama rasi bintang ini ada dalam salah satu lagu gubahan group band asal Kanada : RUSH, di album Hemisphere, tahun 1974 yang kemudian dijadikan seminar internasional pada pertengahan tahun 70-an).
Ya, Black Hole … zarah angkasa luar yang memiliki daya gravitasi yang sangat luar biasa (bahkan mampu membelokkan bahkan menyedot cahaya), itu yang terdekat dengan bumi (yang diketahui saat ini) adalah 10 ribu tahun cahaya…… padahal 1 detik cahaya (cahaya karena hasil reaksi alami, bukan cahaya lampu senter atau petromax juga bukan cahaya lilin ataupun kayubakar) mampu menjelajah sepanjang 300 Juta meter. Padahal sempat ada yang mengukur bahwa bumi dan alam semesta ini mengembang dalam keadaan statis dengan kecepatan +- 3200 km per detik.
Nah karena black hole itu suatu zarah yang memiliki gravitasi yang luar biasa kuat, hingga mampu ‘melahap’ suatu planet sekalipun, maka zarah ini diperhitungkan akan menetap pada kondisi semula atau tidak ikut mengembang seperti yang lainnya…..
Jadi bila memang jarak bumi dan tata surya ini menuju dengan tepat ke arah black hole dimana fenomena Cygnus X-1 ditemukan, maka perlu waktu selama =
(10.000 x 60 x 60 x 24 x 365 x 300.000) / 3200 = 2.97 x 10 pangkat 13 detik = 56.250.000 tahun mendatang, agar bumi dan tata surya ini bersinggungan dengan black hole….
… lha dalah, ternyata masih lama …. dari perhitungan otak atik gathuk koyo gethukdi atas, saya jadi mikir; jangan-jangan ada semacam keberulangan sistem di bumi ini, dimana sebenarnya ratusan juta tahun yang lalu bumi ini juga pernah dihuni oleh makhluk yang cerdas yang setara dengan manusia, namun karena suatu alasan mereka kemudian punah (atau pindah ke alam semesta lainnya namun masih tetap mengawasi bumi berikut isinya saat ini), tapi nggak sampai kiamat total……. dan kemudian ganti manusia (ya yang seperti kita-kita ini yang doyan nasi goreng) yang mendominasi bumi ini, hingga berkesempatan bertemu dengan kiamat yang sebenarnya kelak kemudian hari….
Tapi saya juga mikir lagi; iya kalo memang hanya black hole Cygnus X-1 saja yang ada di gugusan galaksi bimasakti …. Lha kalo ternyata ada yang beberapa puluh tahun saja dari bumi… bisa kebayang…...
Belum lagi kalo ternyata ada perhitungan bahwa setiap 100 tahun sekali kecepatan mengembang tata surya menjadi bertambah 10 kali lipat, karena sudah berjarak dekat dengan black hole….. semangkin singkat lagi….
Juga belum lagi kalo ternyata bumi dan system tata Surya terjebak masuk ke dalam lubang cacing (worm hole) yang akan mengantarkan ke dimensi baru alam semesta yang ndilalah-nya ternyata sebuah semesta yang kebetulan deket sama black hole… whalah..malah lebih cepet lagi… cuman sepersekian detik wis kiamat ndonya iki…
(note; untuk ukuran manusia, hanya ada 1 orang yang telah berhasil menembus dimensi ke 7, yaitu Nabi Muhammad dalam peristiwa spektkuler yang bernama; Isra' Mi'raj.)
Dan ternyata, kiranya memang benar… di galaksi Bimasakti, pada tahun 2005 kemarin terdapat konfirmasi ratusan black hole yang menyelinap dan siap ‘memangsa’ benda apa-pun yang melewatinya….
Mudah-mudahan kita semua adalah sekumpulan manusia yang senantiasa eling lan waspodo setiap saat hingga akhirnya bumi ini berkesempatan untuk bersinggungan dengan Blackhole.
Kekhawatiran akan keganasan blackhole inilah yang kemudian menjadikan ragu beberapa fisikawan (termasuk Stephen Hawking sendiri), ketika Large Hadron Collider/LHC di operasikan awal September yang lalu.
Mudah-mudahan kita semua adalah sekumpulan manusia yang senantiasa eling lan waspodo setiap saat hingga akhirnya bumi ini berkesempatan untuk bersinggungan dengan Blackhole.
Kekhawatiran akan keganasan blackhole inilah yang kemudian menjadikan ragu beberapa fisikawan (termasuk Stephen Hawking sendiri), ketika Large Hadron Collider/LHC di operasikan awal September yang lalu.
Jakarta, 28 Oktober 2008.
Anton Joedijanto.
Langganan:
Postingan (Atom)
